Puluhan Generasi Muda Ikut Pelatihan Penulisan Cerita Betawi
Puluhan generasi muda, Rabu (12/8) kemarin, mengikuti pelatihan penulisan kreatif bertema "Dari Folklor ke Fiksi: Menulis Cerita Betawi untuk Generasi Baru" di Balai Sasta HB Jassin, Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat.
Praktik budaya dapat menjadi bahan bakar bagi penulis menemukan ide
Pelatihan yang diadakan Perkumpulan Betawi Kita dengan Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin dan Perpustakaan Jakarta ini, mempertemukan penulis, sastrawan, budayawan, akademisi, serta generasi muda untuk menggali kembali kekayaan folklor Betawi dan mengolah menjadi cerita pendek yang lebih kontekstual.
Dosen Sastra Indonesia Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Ige Azmin mengatakan, kekayaan folklor Betawi sebenarnya dekat dengan kehidupan masyarakat.
Pramono Komitmen Terbitkan Pergub Lembaga Adat Betawi"Cerita, tradisi, benda, kebiasaan, hingga berbagai praktik budaya dapat menjadi bahan bakar bagi penulis menemukan ide," ujarnya.
Menurutnya, penulis tidak harus menguasai seluruh detail budaya Betawi sejak awal. Justru proses menulis dapat menjadi pintu untuk menggali lebih jauh kekayaan budaya tersebut.
"Folklor itu berkaitan dengan segala sesuatu yang ada di dalam kelompok masyarakat, bisa berupa cerita, tradisi, benda-benda, maupun hal-hal lain yang hidup di masyarakat," ujar Ige seperti dikutip melalui keterangan tertulis, Kamis (13/8).
la juga mengingatkan pentingnya membuat premis dan kerangka sebelum mulai menulis. Perencanaan ini dapat membantu penulis mengatasi writer's block dan membuat proses kreatif lebih terarah.
"Kalau kita menjadikan folklor sebagai sumber inspirasi dan bahan cerita pendek, itu justru bisa membuat kita lebih lancar menulis," ungkapnya.
Sementara sastrawan, Sasti Gotama, melihat cerita rakyat Betawi memiliki banyak kemungkinan untuk dihidupkan kembali melalui sudut pandang baru.
"Cerita seperti Si Mirah, Si Pitung, maupun Si Manis Jembatan Ancol tidak harus sekadar ditulis ulang. Penulis dapat mengambil "ruh" cerita, kemudian membawanya ke persoalan masa kini tanpa menghilangkan pesan moral," tuturnya.
Menurut Sasti, kedekatan dengan persoalan generasi muda menjadi kunci agar cerita lama kembali menarik.
"Bagaimana menjadikan cerita masa lalu itu tetap relate, bisa mengambil roh dari cerita-cerita yang lalu dengan setting masa kini tanpa kehilangan ruh cerita-cerita rakyat Betawi," ujarnya.
la menilai, generasi muda akan lebih mudah tertarik saat cerita yang dibaca memiliki hubungan dengan kehidupan mereka.
"Biasanya orang tertarik membaca karena merasa relate, merasa terhubung dengan cerita tersebut," kata Sasti.
Disebutkan Sasti, tantangan terkini sastra harus bersaing dengan media sosial yang menawarkan pengalaman visual dan audio secara cepat.
Oleh karena itu, kata Sasti, pengenalan sastra Betawi tidak cukup hanya dengan meminta generasi muda membaca. Mereka perlu diberi ruang untuk mengenal, berdiskusi, menulis, dan mengolah cerita dengan cara yang sesuai dengan zaman mereka.
"Tidak kenal, tidak sayang. Makanya salah satu forum seperti ini adalah mengenalkan kepada mereka. Semakin banyak pemaparan akan membuat mereka tertarik dengan sendirinya," tukasnya.
Ketua Perkumpulan Betawi Kita, Fadjriah Nurdiarsih menjelaskan, pelatihan dilaksanakan kegiatan dilaksanakan dari kegelisahan perihal masih banyaknya generasi muda yang belum mengenal cerita maupun penulis Betawi.
Dikataknnya, pelatihan ini menjadi langkah awal untuk memperkenalkan kembali khazanah tersebut sekaligus merangsang lahirnya penulis-penulis baru.
"Kami berharap proses tidak berhenti setelah pelatihan. Karya peserta dapat terus dikembangkan, dibukukan, bahkan menjadi bagian dari ekosistem sastra Betawi yang lebih luas," jelasnya.
Ia menambahkan, budaya Betawi nantinya tidak ditempatkan sebagai sesuatu yang kuno atau hanya menjadi artefak masa lalu.
Namun sebaliknya, cerita lama dapat menemukan kehidupan baru melalui cerpen, teater, film pendek, maupun berbagai bentuk kreativitas yang dekat dengan generasi muda.
"Sebenarnya banyak pihak yang harus terlibat jika kita mau menciptakan lebih banyak sastrawan ataupun mengenalkan sastra Betawi. Penulis baru saat ini hampir tidak ada sehingga harus ada langkah serius. Bahkan, urusan sastra Indonesia saja diatur oleh setingkat Kementerian," tandasnya.